Potensi ekonomi Indonesia memang tak bisa dipandang sebelah mata. Sejumlah pakar ekonomi mengungkapkan bahwa potensi ekonomi Indonesia yang menjanjikan dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi negara ini di masa depan.
Menurut Profesor Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan Indonesia, potensi ekonomi Indonesia sangat besar terutama dalam sektor industri manufaktur. “Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah serta jumlah penduduk yang besar, hal ini menjadi modal utama dalam mengembangkan sektor manufaktur yang akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, Wakil Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, juga menekankan potensi ekonomi Indonesia yang menjanjikan terutama dalam sektor pertanian. “Pertanian merupakan sektor yang sangat potensial di Indonesia karena mayoritas penduduk masih bermata pencaharian sebagai petani. Dengan peningkatan kualitas dan produktivitas pertanian, ekonomi Indonesia dapat berkembang lebih pesat,” kata Dody.
Tak hanya itu, potensi ekonomi Indonesia juga terlihat dari sektor pariwisata. Menurut data dari Kementerian Pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata Indonesia memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan devisa negara.
Selain sektor industri manufaktur, pertanian, dan pariwisata, potensi ekonomi Indonesia juga terlihat dari sektor investasi. Menurut data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke Indonesia terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing melihat potensi ekonomi Indonesia yang menjanjikan.
Dengan potensi ekonomi Indonesia yang begitu besar dan menjanjikan, sudah saatnya bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam mengoptimalkan potensi tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, “Potensi ekonomi Indonesia yang menjanjikan harus dimanfaatkan dengan baik demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.”